Skip navigation

TEORI KOMUNIKASI

  1. A. Komunikasi Sebagai Ilmu Pengetahuan

Manusia sebagai makhluk yang diberikan kemampuan untuk berpikir, berkehendak dan merasa, menjadikan manusia sebagai makhluk tertinggi dari makhluk lainnya yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan kemampuan berfikirnya manusia mendapatkan ilmu pengetahuan, dengan kehendaknya manusia mengarahkan perilakunya dan dengan perasaanya manusia dapat mencapai kesenangannya. Demikianlah, sepanjang hidup manusia dirangsang alam sekitarnya untuk tahu. Yang terutama terkena rangsang adalah indranya : penglihatan, penciuman, perabaan, pendengaran, serta pengecapan. Hasil persentuhan alam dengan panca indera disebut pengalaman (Vardiansyah, 2008). Pengalaman ketika tersentuh rangsang, manusia bereaksi, reaksi ini dicetuskan dengan sebuah pernyataan, contoh : bahwa kopi itu pahit. Akan tetapi, pengalaman semata tidak  membuat seseorang menjadi tahu. Pengalaman hanya memungkinkan seseorang menjadi tahu, hasil dari tahu disebut pengetahuan (Vardiansyah, 2008).

Dalam memahami ilmu & teori komunikasi, hal pertama yang harus dipahami bersama adalah apakah komunikasi merupakan suatu ilmu pengetahuan ? sejak dulu, para pakar komunikasi menganggapnya demikian, akan tetapi apakah anggapan tersebut benar? Pertanyaan ini akan terjawab dengan terlebih dahulu berusaha untuk merumuskan dan memahami bersama apa yang dimaksud dengan ilmu pengetahuan.

Ilmu merupakan realitas logic, yang berarti dapat diterima oleh akal manusia. Hal ini diartikan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Ciri dari suatu ilmu adalah memiliki metode. Metode berarti penyelidikan yang berlangsung menurut suatu rencana tertentu. Jadi dapat dikatakan ilmu merupakan penyepadanan prosedur-prosedur yang dapat membimbing penelitian menurut arah tertentu (Wiryanto, 2005). Sedangkan pengetahuan adalah kesan di dalam fikiran manusia sebagai hasil penggunaan pancainderanya, yang berbeda sekali dengan kepercayaan (beliefs), takhyul (superstitions) dan penerangan-penerangan yang keliru (misinformations) (Soekanto, 1997).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa tidak semua pengetahuan merupakan suatu ilmu, hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil sebuah pemikiran dan dapat terukur kebenarannya  dengan demikian ilmu mengindikasikan tiga ciri (Vardiansyah, 2008) :

1. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan

Masalah yang sama sifat hakikatnya, yang disebut dengan

Objektif.

2. Ilmu harus metodis, yang berarti dalam upaya mencapai

kebenaran selalu terdapat penyimpangan, karena itu harus ada

cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran.

3. Ilmu harus terorganisasikan secara sistematis, artinya ilmu harus

terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis.

4. Ilmu harus berlaku umum, artinya kebenaran yang hendak

Dicapai bukan yang tertentu melainkan yang bersifat umum.

Banyak pakar komunikasi yang telah mendefinisikan komunikasi. Secara etimologis komunikasi berasal dari kata Latin communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar dari kata communis adalah communico yang artinya berbagi. Berbagi disini dimaknakan sebagai pertukaran pesan dengan tujuan mencapai pemahaman bersama. Ilmu komunikasi sebagai objek ilmu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu objek materia, yaitu objek ilmu yang diamati  dalam bidang yang sama dan itu merupakan tindakan manusia dalam konteks sosial (peristiwa yang terjadi antarmanusia), sedangkan objek forma, berarti sudut pandang dari objek materia yang dikaji secara lebih spesifik dan hal ini merupakan komunikasi itu sendiri, yakni usaha penyampaian pesan antarmanusia.

Menurut Hovland, 1953, komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang lainnya (khalayak).

Berelson & stainer, 1964 mengatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian, dll. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka, dll.

Sedangkan Barnlund, 1964 berpendapat bahwa komunikasi timbul di dorong oleh kebutuhan-kebutuhan untuk mengurangi ketidakpastian, bertindak secara efektif, mempertahankan atau memperkuat ego.

D. Lawrence Kincaid, 1981 menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan sebuah proses pertukaran pesan antara komunikator dengan komunikan dengan menggunakan simbol/lambang sehingga menimbulkan umpan balik dan efek, dengan tujuan untuk mendapatkan saling pengertian dan pemahaman yang mendalam. Keberhasilan komunikasi ini akan terjadi apabila antara komunikator dengan komunikan memiliki tingkat pengalaman (Frame of reference) dan tingkat pengetahuan (Field of experience) yang sama.

Ilmu Komunikasi adalah salah satu ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Itu terjadi karena ilmu komunikasi berkembang melalui beberapa pendekatan. Pendekatan-pendekatan yang dipergunakan berasal dari berbagai disiplin ilmu lain seperti psikologi, politik, linguistik, antropologi, ekonomi, budaya dan lain sebagainya. Ini berarti Komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu dapat dikatakan bersifat ekletif, yaitu menggabungkan beberapa disiplin. Sifat ekletif ini dilukiskan oleh Schramm sebagai ”jalan simpang yang paling ramai dengan segala disiplin yang melintasinya” (Arifin, 2008).

Litllejohn dalam buku theories of human communication (2008) menyatakan bahwa ada 3 pendekatan cara pandang ilmu yaitu :

  1. Pendekatan scientific (Ilmiah-empiris)

=> Pendekatan ini cenderung digunakan oleh ahli ilmu eksakta, seperti biologi, fisika, kedokteran, dsb. Pendekatan ini menekankan pada prinsip standardisasi, observasi dan konsistensi. Tujuannya adalah mengurangi perbedaan-perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan. Selain itu, pendekatan ini memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada di luar diri pengamat, memfokuskan perhatian pada dunia hasil temuan (discovered world), serta berupaya memperoleh konsesus dan membuat pemisahan yang tegas antara known yaitu obyek atau hal yang ingin diketahui/diteliti dan knower yaitu subyek pelaku atau pengamat.

  1. Pendekatan Humanisticn

=> Pendekatan ini cenderung mengutamakan kreativitas individual bertujuan memahami tanggapan dan hasil temuan subyektif  individual. Pendekatan ini juga memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang berada di dalam diri pengamat atau peneliti serta menitikberatkan perhatian pada dunia para penemunya, mengutakan interpretasi alternatif dan cenderung tidak memisahkan antara known dan knower

  1. Pendekatan pengetahuan sosial

=> Pendekatan ini pada dasarnya  merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan-pendekatan aliran scientific dan humanistic. Pendekatan social sciences ini merupakan perpanjangan (extension) dari pendekatan ilmu alam (natural sciences) karena metode yang diterapkan banyak mengambil ilmu alam/fisika juga dengan tetap menerapkan metode pendekatan humanistic. Selain faktor obyektivitas, ilmu sosial juga menekankan pada faktor penjelasan dan interpretasi sebab dalam ilmu sosial manusia menjadi obyek pengamatnnya, dan manusia itu adalah makhluk yang aktif, memiliki daya pikir, berpengetahuan, memegang prinsip dan nilai-nilai tertentu serta sikap dan perilakunya dapat berubah sewaktu-waktu. Maka, interpretasi subyektif diperlukan agar dapat menangkap makna tingkah laku tersebut.

Pada perkembangan selanjutnya, ilmu pengetahuan sosial secara umum dapat terbagi atas 2 kelompok yaitu :

  1. ilmu pengetahuan tingkah laku (behavioral Science), yang lebih menekankan pada tingkah laku individu manusia.
  2. ilmu pengetahuan sosial (social science), yang lebih menekankan pada interaksi yang terjadi antar manusia.

Dengan adanya 2 pendekatan (scientific dan humanistic) yang diterapkan, maka muncul dua kelompok ilmuwan komunikasi yang berbeda baik dalam spesifikasi obyek permasalahan yang diamati. Maupun dalam hal aspek metologis serta teori-teori dan model-model yang dihasilkannya.

Kalangan komunikasi yang mendalami bidang studi ”speech communication” (komunikasi lisan/ujaran) banyak menerapkan metode aliran pendekatan humanistic. Teori-teori yang dihasilkannya, umumnya disebut sebagai TEORI RETORIKA sedangkan ahli ilmu komunikasi yang meneliti bidang lainnya seperti komunikasi kelompok, komunikasi organisasi, komunikasi massa dll, umumnya menerapkan metode pendekatan scientific, maka teori-teori yang dihasilkan disebut TEORI KOMUNIKASI (communication theory). Tetapi pada prakteknya ilmuwan yang mendalami bidang kajian komunikasi lisan/ujaranpun sering menerapkan pendekatan scientific, sementara pendekatan humanistic sering diterapkan dalam penelitian tentang masalah komunikasi kelompok, komunikasi massa, dll. dapat dilihat bahwa dalam penerapannya, terdapat pergeseran paradigma dari obyektivis ke arah subyektivis.

Berbagai perbedaan pandangan mengenai komunikasi disebabkan para ahli komunikasi memiliki ketertarikan yang berbeda-beda terhadap berbagai bidang atau aspek yang tercakup dalam ilmu komunikasi. Para ahli komunikasi juga memiliki pandangan yang tidak sama mengenai hal apa yang menjadi fokus perhatian atau aspek apa dalam komunikasi yang menurut mereka paling penting dalam ilmu komunikasi.

Tidak adanya teori tunggal dalam ilmu komunikasi mendorong kita untuk memiliki suatu metamodel teori komunikasi yang bersifat menyeluruh (komprehensif) yang dapat membantu kita menjelaskan berbagai topik dan asumsi dan membantu kita dalam melakukan pendekatan terhadap berbagai teori yang ada. Metamodel teori komunikasi menyediakan suatu sistem yang kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori komunikasi.

Berdasarkan pandangan Robert T. Craig dalam menjelaskan berbagai teori komunikasi yang jumlahnya banyak itu. Robert Craig membagi dunia teori komunikasi ke dalam tujuh kelompok pemikiran atau tujuh tradisi pemikiran yaitu:

1. Sosiopsikologi (sociopsychological)

2. Sibernetika (cybernetic)

3. Retorika (rhetorical)

4. Semiotika (semiotic)

5. Sosiokultural (sociocultural)

6. Kritis (critical)

7. Fenomenologi (phenomenology)

1. SOSIOPSIKOLOGI

Pemikiran yang berada dibawah naungan sosiopsikologi memandang individu sebagai makhluk sosial. Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi memberikan perhatiannya antara lain pada perilaku individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau bagaimana individu melakukan persepsi. Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

2. SIBERNETIKA

Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Komunikasi dipahami sebagai sistem yang terdiri dari bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling mempengaruhi satu sama lain. Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

3. RETORIKA

Retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara. Dalam perkembangannya retorika juga mencakup proses untuk ‘menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai macam pesan’

4. SEMIOTIKA

Semiotika memandang komunikasi sebagai proses pemberian makna melalui tanda yaitu bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang berada diluar diri individu. Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan, media, budaya dan masyarakat.

5. SOSIOKULTURAL

Cara pandang sosiokultural menekankan gagasan bahwa realitas dibangun melalui suatu proses interaksi yang terjadi dalam kelompok, masyarakat dan budaya. Sosiokultural lebih tertarik untuk mempelajari pada cara bagaimana masyarakat secara bersama-sama menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi dan budaya mereka. Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, percakapan, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

6. KRITIS

Pertanyaan-pertanyaan mengenai kekuasaan (power) dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok tertentu di masyarakat menjadi topik yang sangat penting dalam teori kritis. Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk pemikiran yang menentang ketidakadilan. Tradisi kritis digunakan dalam topik-topik tentang diri individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal, kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

7. FENOMENOLOGI

Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri sendiri atau diri orang lain melalui dialog. Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan. Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia. Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesa penelitian sekalipun. Fenomenologi digunakan dalam teori-teori tentang pesan, hubungan interpersonal, budaya dan masyarakat.

Berbagai perbedaan yang terkandung dalam masing-masing kelompok tradisi komunikasi tersebut mempengaruhi pada cara melakukan riset atau penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori yang akan digunakan. Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar paradigma penelitian yaitu objektif dan interpretatif.

1. Objektif

Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif (objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari standarisasi dan kategorisasi. Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula. Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences). Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis. Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori penelitian objektif positivis ini.

2. Interpretatif

Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan humanistic scholarship. Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi. Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu. Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan ‘misteri’ pengalaman manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam penelitian. Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum.

Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut,  ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut ada yang bersifat objektif dan yang bersifat interpretatif. Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:


Sumber:

EM Griffin, dan Glen McClish (special consultant), A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, McGraw Hill, 2003. Hal 33.

Berdasarkan peta tersebut di atas maka kelompok teori komunikasi yang paling objektif adalah Sosisopsikologi, sibernatika, semiotika dan retorika sedangkan kelompok teori yang paling subjektif interpretatif adalah fenomenologi, sosiokultural dan kritis

  1. B. Perspektif & Paradigma Teori Komunikasi

Perspektif merupakan cara pandang kita dalam memandang sesuatu

dan menumbuhkembangkan pengetahuan.Cara memandang yang kita gunakan dalam mengamati kenyataan akan menentukan pengetahuan yang kita peroleh. Pada dasarnya suatu perspektif tidak berlaku secara semena – mena, misal rumah adalah rumah, tidak mungkin atas nama perspektif ia dianggap jeruk. Jadi, perspektif pada satu sisi menyerap benda itu sekaligus makna dari pengetahuan tentang benda itu dalam kerangka epistemologis.

Perspektif selalu mendahului observasi, artinya dalam mengamati suatu peristiwa dapat dilakukan dengan pikiran yang terbuka dan netral, namun pada saat mengobservasi suatu hal, harus dilakukan dengan cara tertentu. Nilai perspektif setiap manusia tidak terletak dalam nilai kebenarannya atau seberapa baik ia mencerminkan realitas yang ada, melainkan semua perspektif yang dapat diperoleh adalah benar dan mencerminkan realitas, walaupun setiap perspektif pada tahap tertentu kurang lengkap serta didistorsi. Jadi yang menjadi inti adalah upaya mencari perspektif yang dapat memberikan konseptualisasi realitas yang paling bermanfaat bagi pencapaian tujuan kita.

Fisher, 1984 membagi  perspektif ke dalam 4 kelompok yaitu :

  1. Perspektif Mekanistis
  2. Perspektif Psikologis
  3. Perspektif Interaksional
  4. Perspektif Pragmatis

Pada dasarnya perbedaan antara perspektif yang satu dengan yang lainnya hanya terletak dalam mengkonseptualisasi komunikasi. Pada perspektif mekanistis terlihat pengaruh konsep ilmu fisika. Perspektif ini adalah perspektif paling awal dan paling luas penganutnya, dalam perspektif mekanistis ini mengkonseptualisasi komunikasi sebagai proses yang mekanistis antara manusia, sebagai proses yang mekanis maka dalam komunikasi terdapat sesuatu pesan yang mengalir melintasi ruang dan waktu dari Komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima) secara simultan. Fokus eksistensinya terletak pada saluran, Komponen dalam model komunikasi ini terlihat jelas yaitu Sumber/komunikator, penerima/komunikan, pesan, saluran, umpan balik dan efek.

Kemudian pengaruh psikologi sangat terlihat pada perspektif psikologis yang merupakan pengembangan dari perspektif mekanistis dengan menerapkan teori S-R (Stimuli-Respon). Dalam perspektif ini komunikasi dikonseptualisasikan sebagai proses dan mekanisme internal penerimaan dan pengolahan informasi. Eksistensi empiriknya terletak pada diri manusia. Sementara, pengaruh sosiologi terlihat pada perspektif interaksional dan perspektif pragmatis, yaitu masing-masing interaksi simbolis dan teori sistem

Thomas Khun, 1970 memaknai perspektif sebagai paradigma, istilah ini disinonimkan dengan diciplinary matrix atau weltanschaung (Vardiansyah, 2008). Dengan kata lain, paradigma dapat diartikan sebagai cara pandang seseorang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (aftektif) dan bertingkah laku (konatif) dalam upaya mencari dan menemukan pengetahuan ilmu dan kebenaran. Hal ini menunjukkan bahwa paradigma sangat menentukan bagaimana seorang ahli memandang komunikasi yang menjadi objek ilmunya.

Namun, Robert Fredrichs, 1970 merumuskan paradigma sebagai suatu pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi pokok persoalan (subject matter) yang semestinya dipelajari (arifin, 2008). Ada 2 dasar utama paradigma ilmu yaitu rasionalisme dan empirisme.

  1. 1. Rasionalisme

Paradigma ini merupakan paham yang menekankan rasio atau kerja akal yang disebut dengan logika sebagai sumber utama pengetahuan manusia. Menurut Plato, manusia terlahir sudah membawa ide abadi dari alam sebelum kelahirannya. Pandangan Plato bahwa pengetahuan adalah hasil ingatan yang melekat pada manusia, yang merupakan suatu kumpulan ingatan yang terpendam dalam benak manusia. Implikasinya pada titik ekstrem, penganut rasionalisme mengabaikan bahkan menolak peran pengalaman dan pengamatan pancaindera bagi pengetahuan. Bagi rasionalisme, pancaindera dapat menipu dan tidak dapat diandalkan. Misal, bintang di langit terlihat kecil padahal besar, tampak genangan air di padang pasir nyatanya tidak ada.

Rasionalisme ini menekankan cara berpikir deduktif dalam membangun pengetahuan. Rasionalisme menyatakan, kebenaran yang dikandung oleh kesimpulan yang diperolehnya sama banyaknya dengan kebenaran yang dikandung oleh premis-premis yang mengakibatkan kesimpulan tersebut. Maka, jika menginginkan agar kesimpulan tersebut berupa pengetahuan, premis-premis tersebut harus benar secara mutlak yang kemudian oleh descartes disebut dengan kebenaran apriori. Pengetahuan apriori adalah pengetahuan yang keberadaannya tidak memerlukan pengalaman, melainkan berdasarkan pemikiran yang dikembangkan akal (Vardiansyah, 2008). Bagi rasionalisme, sumber pengetahuan manusia adalah rasio, rasio itu berpikir, berpikir inilah yang akhirnya membentuk pengetahuan. Hanya manusia yang berpikir yang akan mendapatkan pengetahuan dan kebenaran.

Intinya, rasionalisme menyatakan sumber pengetahuan manusia adalah rasio dan dari rasio tersebut didapatkan kebenaran objektif. Bagi rasionalisme cara berpikir ideal guna membangun pengetahuan adalah melakukan kesimpulan akhir secara deduktif (umum-khusus). Kesimpulan rasional tidak lagi memerlukan pengujian empiris, karena dalam berpikir menyimpulkan dan membangun pengetahuan secara deduktif yang utama adalah ketertiban dalam bernalar. Ini diartikan bahwa antara pernyataan yang satu dengan yang lain tidak boleh bertentangan. Misal, setiap segi empat memiliki 4 sudut, tanpa lagi harus teruji secara empiris hal ini sudah benar. Jadi rasionalisme mencari hukum yang universal, bersifat umum, bukan yang khusus dan dapat berlaku kapanpun dimanapun.

  1. 2. Empirisme

Empirisme berasal dari kata Yunani emperia yang berarti pengalaman. Jadi empirisme dapat diartikan sebagai paham yang menekankan pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan. Bertentangan dengan rasionalisme yang memberi kedudukan bagi rasio sebagai sumber utama pengetahuan, bagi empirisme pengalaman adalah pemegang otoritas terakhir dalam mendapatkan pengetahuan dan menentukan kebenaran.

Bacon, 1561 dalam Vardiansyah, 2008 menyatakan bahwa Science is power, ia berpendapat bahwa sejak semula manusia ingin menguasai alam tapi selalu gagal karena pengetahuan ilmu tidak berdaya guna dan tidak memberi hasil nyata, karena itu agar dapat menguasai alam, manusia harus mengenalnya dengan lebih dekat, yaitu dengan metode induksi berdasarkan eksperimen dan observasi sebagai cara mengumpulkan data faktual yang empirik sensual.

Sementara, John Locke tidak menyetujui isi ajaran Descartes, bagi Locke metode Descartes yang apriori adalah omong kosong. Manusia lahir seperti kertas putih untuk diisi dengan pengetahuan yang berasal dari pengalamannya. Locke berpendapat bahwa manusia memiliki dua ide utama yaitu ide sederhana yang didapat secara langsung melalui pengalaman inderawi dan ide kompleks sebagai refleksi terhadap ide-ide sederhana hingga membentuk pengetahuan tentang dunia.

Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa empirisme bertentangan dengan rasionalisme yang apriori. Manusia mutlak mendapatkan pengetahuan secara aposteriori yaitu pengetahuan yang hadir setelah pengalaman, artinya pengetahuan harus didukung dengan data empiris oleh karena itu dalam empirisme pola pikir yang dianut dalam menyimpulkan dan membangun ilmu adalah induktif. (khusus-umum)

Dari dua paradigma di atas dapat digolongkan lagi ke dalam paradigma penelitian dan metodologi ilmu, yaitu Positivisme dan antipositivisme.

  1. 1. Positivisme

Ajaran ini menyatakan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu yang dibangun berdasarkan fakta empirik sensual, yaitu teramati, terukur, teruji, terulang dan teramalkan sehingga ajaran ini sangat kuantitatif.

Intinya positivisme logis menegaskan bahwa pengetahuan ilmu harus berawal dari pengamatan empiris dan bahwa puncak pengetahuan manusia adalah ilmu yang disusun berdasarkan fakta yang terukur dan amati. Karenanya positivisme menolak metafisik, teologik, etik, dan estetik sebagai sesuatu ilmiah, maka pola pikir yang dianutnya adalah aposteriori, bahwa pengetahuan datang setelah pengalaman yang kesimpulan akhirnya di bangun secara induktif, yakni dari hal yang khusus ditarik kesimpulan umum.

  1. 2. Antipositivisme

Ajaran ini merupakan kritik atas positivisme  yang kemudian berkembang pada ilmu social. Ilmu social dikembangkan pada dengan paradigma positivistik. Ada 2 aliran antipositivist yaitu konstruktivisme dengan teori kritisnya dan interpretivisme dengan symbolic interactionism dan phenomenology. Dapat digambarkan seperti di bawah ini :

Epistemology Theoretical Perspective
  1. 1. Objectivism
  2. 2. Contructivis

  1. 3. Subjectivism
Positivism and Post Positivism

Interpretivism

–          symbolic interactionsm

–          Phenomenology

–          Hermeneutics

Critical inquiry

Sumber :

Dani Vardiansyah, Filsafat Ilmu Komunikasi, IKAPI, 2008.

  1. C. Tipologi Teori Komunikasi

Dalam komunikasi kita mengenal klasifikasi tipologi komunikasi. Klasifikasi tersebut didasarkan atas sudut pandang masing-masing pakar menurut pengalaman dn bidang studinya. Kelompok sarjana komunikasi Amerika yang menulis buku Human Commnunication (1980) membagi komunikasi atas 5 macam tipe, yakni komunikasi Antar Pribadi, Komunikasi kelompok kecil, Komunikasi Organisasi, Komunikasi Massa dan Komunikasi Public.

Joseph A. Devito membagi komunikasi atas empat macam yakni, komunikasi antarpribadi, komuniksi kelompok kecil, Komunikasi Publik dan Komunikasi Massa. Sedangkan R. Wayne Pace membagi komunikasi ke dalam tiga tipe yaitu Komunikasi dengan diri sendiri, Komunikasi antarpribadi dan komunikasi khalayak.

Dari beberapa versi pengklasifikasian di atas kita dapat membagi secara umum menjadi 4 yaitu :

  1. Komunikasi Intrapersonal (dengan diri sendiri), merupakan proses komunikasi yang terjadi di dalam diri Individu atau dengan kata lain Proses berkomunikasi dengan diri sendiri. Terjadinya proses komunikasi di sini karena adanya seseorang yang memberi arti terhadap suatu obyek yang diamatinya atau ada dalam pikirannya.
  2. Komunikasi Antar Pribadi, merupakan proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang atau lebih secara tatap muka. Dalam situsi komunikasi antar pribadi ini dapat kita bedakan menjadi 2 yaitu komunikasi diadik dan komunikasi kelompok kecil.

Komunikasi diadik adalah proses komunikasi yang berlangsung antara 2 orang dalam situasi tatap muka, sedangkan komunikasi kelompok kecil adalah proses komunikasi yang berlangsung antara 3 orang atu lebih secara tatap muka dan anggotanya saling berinteraksi.

  1. Komunikasi Publik, dapat disebut juga dengan komunikasi pidato, komunikasi kolektif, komunikasi retorika, public speaking dan komunikasi khalayak. Hal ini menunjukkan suatu proses komunikasi dimana pesan disampaikan oleh pembicara dalam situasi tatap muka dengan khalayak yang lebih besar. Dalam komunikasi publik penyampaian pesan berlangsung kontinu, dapat diidentifikasi antara sumber dengan penerimanya. Interaksi antara sumber dan penerima sangat terbatas, sehingga tanggapan balik juga terbatas hal ini disebabkan karena waktu yang digunakan sangatlah terbatas dan jumlah khalayak sangat besar.
  2. Komunikasi Massa, Merupakan proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya bersifat melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar dan film. Intinya komunikasi massa adalah proses penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media massa.

Referensi :

Cangara, Hafied, pengantar Ilmu Komunikasi, Rajawali Press, Jakarta, 2006

Littlejohn, Stephen W, Theories of Human Communiation, Wadsworth Publication, New Jersey, 1996.

Mulyana, Dedy, Ilmu Komunikasi, Rosda Karya, Bandung, 2008

Vardiansyah, Dani, Filsafat Ilmu Komunikasi suatu pengantar, IKAPI, Jakarta, 2008.

Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi, Grasindo, Jakarta, 2005.

TUGAS MATRIKULASI

PERSPEKTIF & PARADIGMA TEORI KOMUNIKASI

OLEH

Fitri Susiswani Isbandi

5509120038

Dosen : Dr. Farid Hamid, M.Si

Program : Magister Ilmu Komunikasi

Jakarta,  27 Maret 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: